Rabu, 25 Januari 2012

LAPORAN BK KARIR


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Manusia adalah makluk sosial yang dimana didalam kehidupanya banyak mengalami permasalahan-permasala hidup terutama didalam menentukan suatu pekerjaan atau karir. Untuk itu sekolah harus membantu individu dalam mengamil keputusan dan mendefinisikan diri sendiri dan konseling karir merupakan inti dalam menjalankan tugas ini. Hidup dan masa depan anak-anak banyak dipengaruhi oleh pemilihan pekerjaan.pencapaian identitas pribadi merupakan tugas utama dalam masa perkembangan anak. Kita harus maklum bahwa pemilihan pekerjaan sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak dan kematangan sosialnya.
Tetapi didalam menentukan karir Ada factor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam menentukan pilihan karirnya yaitu paktor-faktor yang ada dalam diri siswa yang meliputi bakat,intelegensi,prestasi,ketrampilan, minat,nilai, hobi, penggunaan waktu terluang, sikap,problema dan keterbatasan pribadi. Dan factor yang lain adalah factor social yang meliputi keluarga,teman dan lingkungan disekitarnya.melihat dari kenyataan bahwa banyak siswa yang mengalami kebingungan dalam menentukan karirnya, karena ia ditak yakin dengan kemampuanyan atau pekerjaan yang ingin ditekuninya tidak mendapatkan persetujuan oleh orang tuanya.
Oleh sebab itu seorang konselor sangat penting untuk memberikan konseliling karir kepada setiap siswa yang sedang mengalami kebingungan dalam menentukan karirnya karena pada umumnya setiap hindividu membutuhkan Bimbingan,nasehat,atau masukan  Sehingga dia dapat mengamil keputusan dengan tepat dalam memilih suatu pekerjaan yang akan ditekuninya sesui dengan bakat dan minatnya, sehingga didalam melakukan pekerjaan dia akan bersungguh-sungguh dan senang melakukannya.
Dengan memperhatikan pentingnya tugas konselor dalam memberikan konseling karir, maka para konselor seyogyanya menguasai pengetahuan dan ketrampilan dalam mempraktekkan beberapa teori Bimbingan karir sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh siswa.

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.     Masalah apa yang sedang dialami oleh klien?
2.     Bagai mana trimen yang di berikan oleh konselor kepada klien dalam membantu menyesesaikan masalah klien ?
3.     Teori apa yang dipake oleh konselor dalam membantu klien dalam menyelesaikan masalah klien?

1.3  TUJUAN
1.     Untuk memenuhi kewajiban mata kuliah pratikum BK karir.
2.     Untuk mengetahui masalah apa yang sedang di alami oleh klien.
3.     Untuk mengetahui bagaimana tritmen yang di berikan oleh konselor dalam membantu klien menyelesaikan masalahnya.
4.     Untuk mengetauhi teori apa yan di pake untuk membantu klien dalam membantu menyelesaikan masalahnya.

1.4  MANFAAT
1.     Dapat memahami masalah yang di hadapi klien.
2.     Dapat memahami bagaimana tritmen yang di berikan kepada klien.
3.     Dapat memahami teori yang di gunakan untuk membantu klien

















BAB II
STUDI KASUS

2.1 IDENTITAS KLIEN
Nama klien                             : I made Wiguna
Nomor induk                          : 4238
Tempat dan tangal lahir        : Trunyan,17,novemer,1995
Jenis kelamin                          : Laki-laki
Agama                                     : Hindu
Anak ke                                   : 2
Status dalam keluarga                       : Anak
No telepon                             : 081934313909
Sekolah                                   : SMA Negeri 2 Bangli
Kelas                                       : 2
Alamat sekolah                      : Kubu, Bangli
Nama orang tua                    
a.     Uyah                           : I wayan Tereh
b.     Ibu                               : NI wayan Sukanaba
Pekerjaan orang tua
a.     Ayah                            : PNS
b.     Ibu                               : Ibu rumah tangga
Alamat orang tua                   : Trunyan, Kintamani,Bangli

Dukumentasi konseling

Dalam melakukan konseling
Poto klien
2.2 PROFIL/GAMBARAN MASALAH KLIEN
           Klien memiliki masalah didalam menentukan karir yang akan ditekuninya, klien merasa kebingungan karena dia akan tamat SMA tidak tau harus kemana melanjutkan studinya. Padahal dia sudah memiliki cita-cita untuk melanjutkan keperguruan tinggi dibidang keguruan kususnya menjadi guru Bimbingan dan konseling, tetapi orang tuanya tidak menyetujui pilihan si klien,  karena orang tuanya menginginkan si klien menjadi penerus usaha yang dia miliki, yaitu usaha dibidang perotelan dan untuk itu orang tuanya mengiginkan si klien melanjutkan studinya di perguruan tinggi dibidang menejemen perotelan. Tetapi si klien tidak mau menuruti orang tuanya utuk melanjutkan usahanya karena si klien merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hotel, dan dia juga merasa bahwa dia tidak bisa berbahasa asing dan ia juga merasa bahwa bakatnya itu adalah menjadi guru kususnya guru Bimbingan dan konseling, karena dia mengagap bahwa menjadi guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia karena dapat berbagi ilmu,dan bisa memberikan nasehat atu masukan dan arahan kepada peserta didiknya.
           Karena itulah si klien merasa kebingugan dalam menentukan kemana dia akan melanjutkan studinya, kalau dia melanjutkan ke perguruan tinggi di bidang keguruan orang tuanya tidak menyetujui dan dia juga tidak berani menentang orang tuanya, sedang kan kalau dian menuruti perkataan orang tuanya dia  merasa tidak memiliki kemampuan dibidang mengelola hotel, dan pekerjaan itupun dia tidak senangi. Untuk itulah  si klien mendatangi konselor untuk meminta masukan dan dasehatnya sehingga permasalahannya bisa terpecahkan.

2.3 TRITMEN
Melihat dari permasalan yang di alami oleh klien ada langkah- langkah yang di lakukan oleh konselor dalam membantu klien untuk memecahkan permasalalan yang di hadapi oleh klien antara lain:
1.     Identifikasi masalah
Pada langkah ini yang saya lakukan adalah mengenali gejala-gejala awal dari sutu masalah yang di hadapi oleh klien.maksud dari gejala awal disini adalah saya melihat ada siswa yang menunjukan  prilaku yang tidak biasanya dia tunjukan yaitu dia menjadi pendiam dan suka mennyendiri, padahal dia orangnya sangatlah aktif dan senang bergaul. melihat dari prilaku siswa seperti itu, kemudian saya melakukan analisis.didalam saya menganalisis klien disini saya mengumpulkan impormasi-impormasi mengenai diri klien dari gurunya,temanya, orang tuanya dan klien sendiri. Prihal dengan melihat ahir-ahir ini klien menunjukan perubahan dalam sikapnya, yaitu klien menjadi pendiam dan suka menjendiri. Impormasi yang saya dapatkan mengenai klien adalah dia tidak diperbolehkan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di bidang ke guruan oleh orang tuanya padahal itulah yang menjadi cita cita nya dari dulu, melainkan orang tuanya mengiginkan si klien melanjutkan studi keperguruan tinggi di bidang menejemen perhotelan, karena orang tuanya ingin si klien mengelola hotel yang dia miliki dan meneruskan usaha orang tuanya .

2.     Diagnosis
Dalam langkah ini yang saya lakukan adalah menetapkan masalah klien dan apa yang melantar belakanginya berdasarkan asil analisis, melihat dari langkah yang pertama saya lakukan bahwa klien mengalami perubahan sikap dan menjadi pendiam dan suka menyendiri di sebabkan oleh orang tuanya yang tidak memberikan dia melanjutkan studi ke perguruan tinggi di bidang keguruan, melainkan orang tuanya mengiginkan si klien melanjutkan studi ke perguruan tinggi di bidang menejemen perotelan sehingga merasa kebingungan dalam menetukan pilahan karir yang akan dia tekuni kelak . Dan saya menetapkan bahwa klien mengalami masalah di dalam menentukan karirnya.

3.     Pronogsis
Dalam langkah ini menetapkan alternatif  tindakan yang akan saya berikan kepada klien selanjutnya melakukan perencanaan  mengenai jenis dan bentuk masalah apa yang sedang dihadapi oleh klien.seperti rumusan masalah yang di hadapi oleh klien maka saya memperkirakan bahwa klien merasa kebingungan dalam kemana dia akan melanjutkan studinya. Melihat dari permasalahan yang di hadapi oleh klien maka saya membuat alternatif tindakan bantuan yang akan saya lakukan untuk membantu klien yaitu memberikan layanan konseling karir yang bertujuan untuk membantu klien supaya tidak mengalami kebingungan dalam menentukan studinya. Dan disini saya juga menawarkan kepada klien dan orang tua klien untuk melakukan konseling.

4.     Pemberian bantuan
Setelah saya menetapkan pemberian bantuan kepada klien dalam langkah pronogsis maka dalam langkah pemberian bantuan ini saya merialisasikan langkah-langkah alternatif bentuk bantuan berdasarkan masalah dan latar belakang yang menyebabkan klien bermasalah. Dan dalam tahap ini saya melakukan proses konsling karir kepada klien karena ini baru konseling yang pertama saya hanya memberikan masukan dan nasehat kepada klien mengenai masalah yang di hadapinya. Dan di dalam proses konseling saya juga menanyakan kepada klien apakah dia pernah melakukan tes bakat dan minat, klien menjawab pernah, dan klien juga menunjukan tes bakat minatnya kepada saya. Dan saya melihatnya memang berdasarka tes bakat dan minat itu saya melihat memang bakat klien itu ada di bidang keguruan. Untuk itu saya memberikan  masukan ke pada klien untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di bidang keguruan, dan menyuruh klien untuk menunjukan asil tes bakat dan minatnya itu ke pada orang tuanya. Kalau memang orang tua klien masih belum mau mengasih klien melanjutkan studi ke perguruan tinggi di bidang ke guruan  maka saya menyuruh klien mengajak orang tuanya  untuk melakukan proses konseling di pertemuan ke dua. Dan ahirnya dua harinya lagi klien mengajak orang tuanya untuk melakukan layanan konseling, di pertemuan ke dua ini saya lebih banyak berbicara kepada orang tua klien menganai masalah klien, disini saya memberikan penjelasan kepada orang tua klien bahwa klien itu memang memiliki bakat di bidang keguruan dan minatnya pun ada di sana,di sini saya juga menjelaskan bahwa apa yang di inginkan oleh orang tua klien itu untuk menyuruh klien melanjutkan studi ke perguruan tingi di bidang perotelan tidak lah baik karena apa yang kita lakukan berdasatkan paksaan dan tanpa kita senangi maka segala sesuatu itu tidak bisa berjalan dengan baik. Dan pada ahirnya orang tua klien mau mengalah dan mengatakan bahwa dia menyetujui apa yang menjadi pilihan dari klien, tetapi dengan kata-kata dan riyut wajah yang belum meyakinka. Untuk itu saya harus melakukan evaluasi dalam langkah berikutnya


5.     Evaluasi dan tindak lanjut
Setelah saya melakukan pemberian bantuan  dengan cara melakukan proses konseling karir  pada langkah pemberian bantuan, maka pada langkah ini saya melakukan evaluasi kepada klien apakah  proses konseling yang saya lakukan itu berhasil atau tidak. Di dalam masalah klien ini saya mengumpulkan imformasi atau data- data mengenai klien dengan cara berkunjung kerumah klien untuk wawancarai orang tua klien dank lien sendiri  mengenai masalah klien, apakah orang tuanya sudah memberikan si klien untuk melanjutkan studi ke perguruan tingi di bidang ke guruan atau masih orang tuanya menginginkan klien untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di bidang menejemen perotelan. Nah di dalam saya mewawancarai klien bersama orang tuanya saya mendapatkan informasi bahwa orang tuanya sudah mengijinkan klien untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di bidang ke guruan. Dan di sekolah pun saya melakukan observasi terhadap prilaku klien bahwa klien sekarang suda seperti dulu lagi, tidak lagi menyendiri,pendiam dan di dalam kelaspun dia sudah aktif.
Artinya di dalam saya memberikan layanan konseling ini bisa di katakana berhasil membantu klien dalam memecahkan masalahnya.


BAB III
KAJIAN TEORI
3.1  TEORI KLIEN CENTERED
Didalam saya membantu klien dalam memecahkan permasalahanya dengan memberikan layanan konseling karir saya mempergunakan teori klien centered. karena didalam memberikan layanan konseling teori klien centered memberikan kebebasan bagi klien untuk mengamil keputusan,dan konselor hanya memusatkan perhatianya  kepada klien dan mengikuti arah perasaan klien, sehingan klien diberi tanggung jawab yang penuh oleh konselor dalam mengamil keputusan. Didalam memberikan konseling teori ini juga menekankan bagi konselor tidak boleh mempengaruhi klien dalam mengamil keputusan. Dan konselor hanya mengarahkan, memberikan perbandingan dan memberikan masaukan kepada klien. Untuk itulah saya memilih teori ini  karena pada dasarnya manusia didalam menentukan pilihan kususnya di bidang karir apabila pilihanya di tentukan oleh orang lain ada kemungkinan dia akan merasa kurang puas dan di dalam dia menjalani juga tidak bisa dia jalani secara optimal. Oleh sebab itu berikanlah dia kebebasan untuk menentukan pilihanya. Apabila dia yang menentukan pilihanya sendiri pasti dia akan menjalani pilihanya dengan sungguh-sungguh.

       3.1.1 Pengertian Layanan Konseling Client Centered
Aliran atau pendapat ini disebut “Client Centered” atau berpusat kepada klien, karena dalam konseling konselor mengikuti arah dan perasaan klien; kebebasan diberikan kepada konseli untuk membuat keputusan. Perhatian konselor dipusatkan kepada klien dan proses konseling diatur sedemikian hingga konseli diberi tanggung jawab yang cukup besar dalam penggaambilan keputusan. Carl Roger, yang memulai aliran ini menekankan pada prinsip, bahwa konselor harus menahan diri dalam memberi pengaruh kepada klien dan konselor memberi tanggung jawab kepada klien dalam proses penentuan pemecahan masalah atau jalan keluar, konselor memberi kebebasan kepada konseli dalam mengekspresikan diri dan dalam menentukan cara bagaimana menangani masalahnya.
                             
3.1.2 Konsep dasar
a. Pandangan Menurut Rogers
Client Centered (Konseling Berpusat Klien), model konseling berpusat pribadi dikembangkan oleh Carl R. Rogers. Sebagai hampiran keilmuan merupakan cabang dari psikologi humanistik yang menekankan model fenomenologis. Konseling person-centered mula-mula dikembangkan pada 1940-an sebagai reaksi terhadap konseling psychoanalytic. Semula dikenal sebagai model nondirektif, kemudian diubah menjadi client-centered.
Carl Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.

b.  Ciri-Ciri Pendekatan Client Centered
Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
1.   Klien dapat bertanggungjawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
2.   Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman  terhadap klien, terapis memfokuskan pada persepsi diri klien dan persepsi klien terhadap dunia.
3.   Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkan bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan klien. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (Klien).
4.   Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
5.   Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan klien memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.

c. Tujuan Pendekatan Terapi
Terdapat beberapa tujuan pendekatan terapi Client Centered yaitu sebagai berikut :
1. Keterbukaan pada Pengalaman
Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalamam menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana kenyataan itu hadir di luar dirinya.
2. Kepercayaan pada Organisme Sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Dengan meningkatnya keterbukaan klien terhadap pengalaman-pengalamannya sendiri, kepercayaan kilen kepada dirinya sendiri pun muali timbul.
3. Tempat Evaluasi Internal
Tempat evaluasi internal ini berkaitan dengan kepercayaan diri, yang berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi masalah-masalah keberadaannya. Orang semakin menaruh perhatian pada pusat dirinya dari pada mencari pengesahan bagi kepribadiannya dari luar. Dia mengganti persetujuan universal dari orang lain dengan persetujuan dari dirinya sendiri. Dia menetapkan standar-standar tingkah laku dan melihat kedalam dirinya sendiri dalam membuat putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
4. Kesediaan Untuk Menjadi Satu Proses.
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian merupakan lawan dari konsep diri sebagai produk. Walaupun klien boleh jadi menjalani terapi untuk mencari sejenis formula guna membangun keadaan berhasil dan berbahagia, tapi mereka menjadi sadar bahwa peretumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Para klien dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan kepercayaan-kepercayaannya serta membuka diri bagi pengalaman-pengalaman baru, bahkan beberapa revisi.
5. Tujuan Konseling
Tujuan Konseling dengan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
·      Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya .
·      Membantu klien agar dapat bergerak kearah keterbukaan, kepercayaanyang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri dan meningkatkan spontanitas hidupnya.
·      Menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan.
·      Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.

3.1.3 Hubungan Konselor dengan Klien
Konsep hubungan antara terapis dan client dalam pendekatan ini ditegaskan oleh pernyataan Rogers (1961) “jika saya bisa menyajikan suatu tipe hubungan, maka orang lain akan menemukan dalam dirinya sendiri kesanggupan menggunakan hubungan itu untuk pertumbuhan dan perubahan, sehingga perkembangan peribadipun akan terjadi. Ada enam kondisi yang diperlukan dan memadahi bagi perubahan kepribadian :
1.   Dua orang berada dalam hubungan psikologis.
2.   Orang pertama disebut klien, ada dalam keadaan tidak selaras, peka dan cemas.
3.   Orang kedua disebut terapis, ada dalam keadaan selaras atau terintegrasi dalam berhubungan.
4.   Terapis merasakan perhatian positif tak bersyarat terhadap klien.
5.   Terapis merasakan pengertian yang empatik terhadap kerangka acuan internal client dan berusaha mengkomunikasikan perasaannya ini kepad terapis.
6.   Komunikasi pengertian empatik dan rasa hormat yang positif tak bersyarat dari terapis kepada client setidak-tidaknya dapat dicapai.
Ada tiga ciri atau sikap terapis yang membentuk bagian tengan hubungan teraputik :
Pertama, Keselarasana/kesejatian. Konsep kesejatian yang dimaksud Rogers adalah bagaimana terapis tampil nyata, utuh, otentik dan tidak palsu serta terinytgrasi selama pertemuan terapi. Terapis bersikap secara spontan dan terbuka menyatakan sikap-sikap yang ada pada dirinya baik yang positif maupun negatif. Terapis tidak diperkenankan terlibat secara emosional dan berbagi perasaan-perasaan secara impulsive terhadap  client. Hal ini dapat menghambat proses terapi. Jelas bahwa pendekatan Client Centered berasumsi bahwa jika terapi selaras/menunjukkan kesejatiannya dalam berhubungan dengan klien maka proses teraputic bisa berlangsung.
Kedua, Perhatian positif tak bersayarat. Perhatian tak bersayarat itu tidak dicampuri oleh evaluasi atau penilaian terhadap pemikiran-pemikiran dan tingkah laku client sebagai hal yang buruk atau baik. Perhatian tak bersyarat bkan sikap “Saya mau menerima asalkan…..melainkan “Saya menerima anda apa adanya”. Perhatian tak bersyarat itu seperti continuum. Semakin besar derajat kesukaan, perhatian dan penerimaan hangat terhadap klien, maka semakin besar pula peluang untuk menunjung perubahan pada klien.
Ketiga, Pengertian empatik yang akurat. Pada bagian ini merupakan hal yang sangat krusial, dimana terapis benar-benar dituntut untuk menggunakan kemampuan inderanya dalam berempati guna mengenali dan menjelajahi pengalaman subjektif dari klien. Konsep ini menyiratkan terapis memahami perasaan-perasaan client yang seakan-akan perasaanya sendiri. Tugas yang makin rumit adalah memahami perasaan klien yang samar dan memberikan makna yang makin jelas. Tugas terapis adalah membantu kesadaran klien terhadap perasaan-perasaan yang dialami. Regers percaya bahwa apabila terapis mampu menjangkau dunia pribadi klien sebagaimana dunia pribadi itu diamati dan dirasakan oleh klien, tanpa kehilangan identitas dirinya yang terpisah dari klien, maka perubahan yang konstruktif akan terjadi.

3.1.4 Proses Konseling
Proses-proses yang terjadi dalam konseling dengan menggunakan pendekatan Client Centered adalah sebagai berikut :
1.   Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
2.   Konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan.
3.   Melalui penerimaan terhadap klien, konselor membantu untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam konsep diri.
4.   Dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
5.     Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan





























BAB IV
                                                                      PENUTUP                           

4.1  KESIMPULAN
Didalam saya memberikan layanan konseling karir dapat di amil kesimpulan bahwa saya menemukan siswa yang kebingungan di dalam menentukan studinya padahal dia sudah memiliki cita-cita untuk menjadi guru, kususnyan guru Bimbingan konseling tetapi orang tuanya tidak memberikan klien melanjutkan ke guruan melainkan orang tuanya menginginkan klien melanjutkan ke menejemen perotela, karena tamat dari sana dia akan disuruh mengelola hotel milik keluarganya. Didalam membantu klien utuk  mengamil kuputusan saya memberikan layanan konseling karir dimana ada langkah- langhah yang saya lakukan yaitu melakukan Identifikasi masalah, Diagnosis, Pronogsis, Pemberian bantuan, Evaluasi dan tindak lanjut.dan teori yang saya pergunakan dalam membantu klien adalah teori klien centered. dan masalah klien pun bisa terpecahkan denga melakukan layanan konseling karir, dengan dua pertemuan  dimana ahirnya klien diijinkan oleh orang tuanya untuk melanjutkan studi ke perguruan tingi di bidang ke guruan
4.2  SARAN
Saya sebagai penulis sadar bahwa laporan ini jauh dari sempurna maka dari penulis mengharapkan kritik dan saranya dari pembaca, yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini, supaya bermamfaat untuk kita semua khususnya mahasiswa bimbingan dan konseling.









LAPORAN

PRATIKUM BIMBINGAN DAN KONSELING KARIR

 













OLEH

NAMA : IWAYAN PERMANA
NIM     : 2009.I.1.0042





INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(IKIP) PGRI BALI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
DENPASAR
2012







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar